Eine Blog von mir

how’s life easily change

5 April 2008 · Kommentar schreiben

Aku tak menyangka bisa seperti saat ini. Yaah, inilah berkat Tuhan. Beberapa waktu yang lalu, masih teringat dibenakku masa aku berada di tangah ketidakpastian. Masa aku berharap penuh, namun harapanku tak kunjung diwujudkan. Masa lulus kuliah, mendapat gelar sarjana merupakan hal yang sangat membanggakanku. Namun masa setelah itu, di mana aku harus melanjutkan hidupku mencari perkerjaan guna mengaplikasikan ilmu yang telah ku peroleh adalah masa yang bisa dibilang suram bagiku. Akupun jadi berpikir, alangkah senangnya bisa kembali kuliah terus menerus bersama teman-teman, di mana aku bisa memiliki kegiatan rutin yang pasti tanpa memikirkan hari esok. Hal ini seakan membuat aku melupakan kalau aku telah lulus kuliah, bahwa aku harus mensyukuri apa yang telah kudapatkan.

Beberapa bulan setelah diwisuda, mencari pekerjaan jadi tujuanku. Akupun mulai dengan mengirimkan lamaran ke beberapa perusahaan, walaupun tak ada lowongan di sana. Berbagai jasa job vacancy di internet telah kudaftarkan namaku. Perusahaan terkenal yang membuat aku terpesona jika mendengarnya pun telah aku kirimkan lamaranku ke sana. Awalnya aku begitu semangat apply sini dan sana. Internetlah satu satunya sumber informasiku maupun mediaku mengirimkan lamaran. Beberapa bulan kemudian, tak satupun jawaban yang positif. Aku malah jadi begitu sensitif ketika orang menanyakan kabarku. „udah kerja di mana Hel? Sekarang ngapain Hel? Eh, so melamar di mana jo?“ OMG, i reaaly dont like to hear that. Aku jadi sangat ingin menghindar dari orang-orang untuk pertanyaan seperti itu. Hal ini membuatku mengerti, bagaimana perasaan orang orang yang dalam masa pengangguran. Stress pastinya. Jadi- I suggest to you guys,. Don’t ever try to know ur friends job specifically when u know that she or he is jobless. They definitely have no answer for that, except for them who have already get job. Maka, jangan juga sombong pada waktu kuliah, because u’ll face a moment for finding job when u are jobless after graduating.
Waktu semakin bertambah, aku jadi menghindar dari teman-temanku, males kalo ditanyain kabar. Ada juga yang pernah tawarkan kerjaan buatku, namun aku memang kurang tertarik karena alasan tertentu. Yang aku mau ialah perkerjaan yang sesuai dengan jurusan aku kuliah, maupun juga minatku. Karena yang ku perhatikan dari orang-orang, pengalaman sebelumbya akan sangat berpengaruh pada masa depan pekerjaan kita. Doapun selalu ku panjatkan. Orang tuaku selalu mendorong ku, walaupun lewat telpon doank, but it’s so meaningful.
– Suatu waktu, aku dapat telpon kalau aku diundang untuk tes di X company. It’s HOLCIM, perusahaan semen. Pada hari yang sama, ada juga telpon dari perusaahan Y. Wow, 2 tawaran hanya dalam sehari. That’s God’s mercy. Aku langsung mengiyakan tawaran yang kedua untuk mengikuti interviewnya, walaupun harus pake pesawat untuk menuju lokasinya (perusahaan yang ongkosin). Tes di X pun aku jalanin, namun memang bukan untukku, yah akupun tak lolos. Memang, jika ditelaah, perusaahan ini tidak sesuai dengan latar belakang bidangku. Aku sempat patah semangat ketika tidak lolos masuk di situ. The second company, aku dapat halangan untuk ini, jadi tak terlaksanalah interview untuk itu. Namun setelah beberapa minggu, mereka menelpon lagi menawarkan untuk interview, dan kali ini akhirnya aku bisa memenuhi permintaan mereka, terbang ke tempat mereka. I get accepted. Tapi tak tahu kenapa, begitu berat aku untuk menerima kerja diperusahaan tersebut dan dengan berat aku menolaknya pada beberapa hari setelah interview.
Yaah, masiih jobless, namun aku malah mulai jadi semakin cuek dari waktu ke waktu soal statusku yang jobless. Stress mulai berkurang, interview lain mulai berdatangan.
Dan suatu hari aku dapat email lagii untuk kembali interview di daerah yang sama dengan perusahaan Y, dan aku harus menggunakan pesawat lagi sebagai transportasinya.
Yaah, memang tak ku tahu khan hari esok. Namun aku akhirnya diterima di perusahaan yang paling terakhir mengontakku. Puji Tuhan. Aku malah diterima di posisi bukan yang ku lamar. Saat kirim lamaran juga, sebenarnya hanya iseng saja karena syarat yang dibutuhkan ialah 3 tahun pengalaman kerja sedangkan aku hanyalah fresh graduate dengan pengalaman kerja tak cukup setahun. Memang inilah jalan Tuhan. Aku harus selalu bangkit, dan berharap. Tak ku tahu khan hari esok, tak ku sangka kalau aku bisa kerja di Schneider. Perusahaan yang bergerak di bidang salah satunya produksi alat-alat listrik dan elektronik yang jelas-jelas sesuai dengan bidang dan minatku. Oh Terima kasih Tuhan. I am an engineer.

Kategorien: Uncategorized

0 Antworten bis hierher ↓

  • Bis jetzt noch kein Kommentar ... Bring die Sache ins Rollen, und füll das untere Formular aus.

Kommentar schreiben